x
Refleksi 2016, Tingginya Bencana Alam dan Sosial

dpd.go.id

Jakarta (2/1) – Ketua Majelis Percepatan Pembangunan Daerah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Farouk Muhammad menyampaikan, tahun 2016 menjadi tahun refleksi bencana bagi bangsa Indonesia, baik bencana alam maupun “bencana sosial”.
 
“Bencana alam yang datang silih berganti sepanjang tahun 2016 telah menyebabkan kerugian materi dan nonmateri yang besar,” ucap Farouk Muhammad dalam rangka proyeksi awal Tahun 2017 dan refleksi akhir Tahun 2016 di Jakarta, (2/1)

Farouk yang belum lama ini mengunjungi dua lokasi bencana terbesar gempa bumi di Aceh dan banjir bandang di Bima mengatakan, bencana alam terjadi akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, alih fungsi lahan, hingga penyempitan sungai yang berkontribusi  terhadap tingginya bencana alam.

“Harus ada evaluasi yang komprehensif dalam bidang kebencanaan, agar Indonesia menjadi negara yang tangguh bencana dan warganya waspada bencana. Di sisi lain, pemanfaatan sumber daya alam juga harus berkelanjutan.” tegas Farouk

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selama tahun 2016 terdapat 2.342 kejadian bencana yang didominasi oleh banjir, longsor, dan puting beliung. Angka tersebut 35 persen lebih tinggi dari tahun 2015 (1.732 bencana) dan merupakan kejadian tertinggi sejak tahun 2002. Walaupun kerugian materi diperkirakan tidak mencapaii 50 triliun, namun bencana tersebut menyebabkan  522 orang meninggal dunia dan hilang, serta 3,05 juta jiwa mengungsi. Tidak hanya itu, 69.287 unit rumah mengalami kerusakan, termasuk di antaranya 2.311 unit fasilitas umum.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) ini menambahkan, di kala tingginya bencana alam sepanjang tahun 2016, bangsa kita diterpa  “bencana sosial”, yakni perbedaan persepsi yang tajam di dalam masyarakat dalam memaknai kehidupan berbangsa dan bernegara yang berpotensi memecah-belah keutuhan bangsa.

Jika pada awal pasca-Reformasi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa kita diterpa berbagai konflik komunal secara fisik, sepanjang tahun 2016 kehidupan berbangsa kita “tercoreng” oleh “bencana sosial’ yang sesungguhnya lebih dahsyat, baik dari dalam, seperti semakin maraknya peredaran narkoba dan perkelahian antara kampung di beberapa daerah, maupun dari luar negeri, seperti terorisme, ISIS, tenaga kerja asing (TKA), dan komunisme. Bencana demikian juga dipicu oleh kesenjangan sosial-ekonomi-politik yang masih membayangi kehidupan bangsa Indonesia.

“Berbagai Aksi unjuk rasa yang dilakukan berbagai elemen masyarakat di berbagai tempat karena perbedaan persepsi maupun pandangan tentu sah-sah saja, sepanjang tetap dalam koridor hukum dan menjungjung nilai-nilai hak azasi manusia (HAM). Tetapi, semakin gencar kita mempersoalkan kebhinekaan, intoleransi, dan sebagainya, saya khawatir justru akan mempertajam perbedaan, bahkan dapat menjurus pada disorganisasi dan disintegrasi.” Ujar lulusan Universitas Florida AS tersebut.

Guru Besar Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) menjelaskan, hendaknya setiap warga bangsa menjunjung tinggi etika dalam kehidupan berbangsa. Pemerintah harus terus mengupayakan terwujudnya keadilan dalam berbagai aspek, mulai ekonomi (pemerataan pendapatan dan pembangunan, termasuk ketenagakerjaan), sosial-politik, hingga penegakan hukum yang berkeadilan.

 “Berbagai bencana sosial yang terjadi sepanjang tahun 2016 sesungguhnya harus kita kelola sebagai opportunity untuk membangkitkan kesatuan bangsa. Semakin kita fokus pada ancaman dari luar, semakin rekat semangat nasionalisme kita.” Pungkas Farouk.

02 Januari 2017
Kembali
LIVE STREAM