x
Ibu-Ibu Yogya Suka Belajar

dpd.go.id

Keraton, dpd.go.id – Gempitanya dunia digital tidak lagi terbatas pada sektor teknologi tinggi, namun telah jauh mempengaruhi semua sektor kehidupan.  Berbagai kalangan tidak hentinya mengibarkan “era-baru” globalisasi yang ter-afirmasi dalam “aliran-data” dan informasi yang erat terkait dengan kebangkitan ekonomi.

Bagaimana pun juga, era perdagangan barang melalui transmisi arus informasi dan data mendeterminasikan pergerakan transaksi virtual menuju babak persaingan baru.

Rimba pasar terbentang luas di dunia maya.  Antara persaingan global hingga bisnis tak bermodal mampu mencapai pasar internasional.

Untuk inilah, Google bekerjasama dengan IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) secara khusus melongok peranan penting kaum perempuan bagi pergerakan ekonomi bisnis mikro dan kecil.

Dalam diskusi kecil di Kraton Kilen, Jumat (14/12) siang, bersama GKR Hemas,

Mugi Rahayu Wilujeng, selaku Womenwill Yogya dan Dimas Ragil Mumpuni (Gapura Digital Jogja), menjabarkan bahwa 51%  bisnis mikro dan kecil di Indonesia dimiliki oleh kaum ibu, namun rerata dari perempuan pelaku ekonomi kecil tersebut,  belum memanfaatkan internet sebagai pendukung bisnis mereka.

Diketahui, Womenwill merupakan ide inspiratif dari Google untuk wadah kreatifitas wirausaha perempuan se-Indonesia.  Kelas kreatif ini telah dimulai sejak 17 Mei 2017, hingga sekarang Google telah melatih lebih dari 1 juta UKM yang dilatih nelalui kombinasi antara pelatihan langsung dan dua program pelatihan digital yaitu womenwill (kelas khusus wanita) dan Gapura Digital untuk kelas menengah.

“Selama kami menggelar pelatihan di Yogya, terbukti bahwa Ibu-ibu sangat antusias belajar dibanding kaum bapak. Kenyataan inilah yang membuat google semakin yakin bahwa gab teknologi yang bagi kaum Ibu, kian menipis,” ujar Dimas.

Menjawab pernyataan tersebut, GKR Hemas menyampaikan bahwasannya, sejauh ini perempuan pelaku ekonomi kecil, rata-rata menerapkan sistem kerja personal. “Mereka memproduksi, menjual sendiri dan mencari pembeli sendiri, sehingga untuk meng-admin sosmed jadi kendala tersendiri. Karena itu dibutuhkan keterlibatan pihak lain untuk menyiasati. Kalau perlu anak-anak SMK yang menjadi admin,” ucap GKR Hemas.

Namun, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X ini setuju dengan gerakan yang dilakukan  Google, sebagai salah satu cara pemerataan pendapatan. “Tentunya dengan terbukanya pasar di dunia digital bagi ibu-ibu, muncul harapan baru pada pasar yang selama ini dipandang kurang berpihak kepada pelalu bisnis kecil. Padahal komponen pelaku bisnis kecil inillah yang mampu survive,” ujar Hemas.

Selain itu, GKR Hemas juga mengingatkan, selain memberikan pengetahuan tentang pasar digital pada kaum ibu, tahap awal yang perlu dilakukan adalah meletakkan dasar sistem produksi.  Tentunya, jika sudah masuk pasar global, dibutuhkan kerja secara komunitas. “Pengalaman di Dekranasda, tiap tahun melakukan pendataan pelaku UMKM, karena faktanya baru setahun didata, ternyata sudah tutup. Jadi komponen produksi itu juga perlu diperhatikan,” ucap Hemas.

Masih personal

Kendala lain, lanjut Hemas, pelaku bisnis kecil juga acap-kali ‘ketakutan’ melakukan transaksi via digital. Sehingga dibutuhkan bumper baik personal ataupun lembaga.

“Selama ini pebisnis besar di Indonesia masih berfikir personal, dan sulit mencari ‘Jack Ma’ Indonesia yang berani menjadi tameng bagi pelaku ekonomi kecil,” ucapnya.

Karena itu, butuh ruang tersendiri untuk mencari figur itu. “Mari duduk bersama, dan menanggalkan kepentingan kelompok dan personal, untuk bergerak bersama,” demikian GKR Hemas. (Tim-Humas)

14 Desember 2018
Kembali
LIVE STREAM