x
POPPY DHARSONO MINTA PEMERINTAH RENEGOSIASI AC-FTA

JAKARTA—Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jawa Tengah (Jateng) Poppy Susanti Dharsono meminta Pemerintah merenegosiasi penerapan ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA). Sebabnya, penerapan AC-FTA per tanggal 1 Januari 2010 akan berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia, terutama kelangsungan produksi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Produk-produk UMKM masih rendah kualitasnya karena berbagai problem. Apalagi harus berhadapan dengan produk asing, terutama China dan negara-negara ASEAN, yang membanjiri Tanah Air,” katanya dalam konferensi pers di Gedung DPD Kompleks Parlemen, Senayan--Jakarta, Jumat (8/1).

“UMKM akan bangkrut, obat, dan makanan bermutu rendah dari China akan masuk Indonesia dan produk pertanian serta buah akan membanjiri pasar kita,” tambahnya. Konpers di Ruang Rapat Komite III DPD Gedung B DPD lantai 2 sekaligus pertanggungjawaban moril dan politisnya sebagai anggota DPD.

Menurut Poppy, kebijakan Pemerintah membuka pasar di dalam negeri per tanggal 1 Januari 2010 semakin memudahkan produk China memasuki pasar di dalam negeri yang akan berdampak buruk bagi kelangsungan produksi di dalam negeri. Ia menyebutkan, akses pemasaran produk UMKM yang kesulitan karena tanpa produk unggulan.

Di Jateng, krisis global tahun 2008 menyebabkan banyak pemutusan hubungan kerja (PHK). Masyarakat kemudian beralih ke sektor UMKM. Namun, daya saing produk UMKM masih rendah karena berkualitas rendah.

UMKM di Jateng tahun 2006 berjumlah 3,6 juta. Hingga akhir tahun 2009 jumlahnya bertambah 40.000-70.000. Jadi, total ada 4,3 juta lebih. Sedangkan 57-69% tenaga kerjanya berpendidikan SD atau tidak lulus SD,” ujar Poppy.

Dituturkan, pasca-penerapan AC-FTA akan berdampak buruk terhadap UMKM di Jateng. “UMKM tumbuh cepat karena krisis global dan banyaknya PHK. Sektor ini paling banyak diminati masyarakat dibanding sektor lain,” ujarnya.

Jika Pemerintah tidak menyeriusinya maka berakibat pada kebangkrutan UMKM. Produk UMKM yang berkualitas rendah harus bersaing dengan produk asing-- China dan negara-negara ASEAN—yang akan membanjiri pasar di dalam negeri dengan harga yang murah.

Di bidang kesehatan mengancam perdaran obat dan makan yang berbahaya. Sebagai contoh, tahun 2009 saja dari Rp 3,5 triliun obat, kosmetik, dan bahan makanan yang dibakar paling banyak adalah produk China.

Sementara di bidang pertanian, produk-produk mereka juga akan memasuki pasar di dalam negeri. Petani akan menjual lahannya dan berganti usaha. Ancaman krisis pangan tahun 2015 bukan main-main. “Akan lebih parah bila kita memilih impor beras dan buah-buahan,” sesalnya.

Selain meminta renegosiasi, cara-cara mengatasi gempuran produk China adalah memberikan perlindungan seraya menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dengan harga yang bersaing. Pemerintah di antaranya menurunkan bunga bank, mengurangi jumlah pajak, menurunkan biaya listrik, dan membenahi infrastruktur guna menekan ongkos transportasi.

08 Januari 2010
Kembali
LIVE STREAM