x
Peran Pasar Tradisional Sebagai Pondasi Dasar Ekonomi Kerakyatan

Pasar tradisional menjadi salah satu jantung perekonomian masyarakat. Kedudukan pasar tradisional masih tetap penting dan menyatu dalam kehidupan masyarakat. Banyak masyarakat yang masih membutuhkan pasar tradisional dalam mencari pendapatan dan juga kebutuhan dalam transaksi jual beli. Pesatnya pembangunan pasar modern dirasakan oleh banyak pihak berdampak terhadap keberadaan pasar tradisional.
 
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam acara Dialog "Forum Senator untuk Rakyat" hari Minggu, 17 Mei 2015 di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta, dengan tema "Ekonomi Kerakyatan Dalam Bingkai Nawacita". Dialog tersebut menghadirkan Irman Gusman (Ketua DPD RI), Rahmat Gobel (Menteri Perdagangan RI), Daniel Johan (Anggota DPR), Syahganda Nainggolan (Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle), dan Abdullah Mansyuri (Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia).
 
Irman berpendapat bahwa untuk dapat merefleksikan ekonomi kerakyatan, pemerintahan harus mendasarkan pada rakyat, salah satunya adalah pasar tradisional. Keberpihakan terhadap pasar tradisional dapat menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. "Saat ini pertumbuhan (ekonomi) terdapat pada beberapa elite ekonomi saja, pertumbuhan ekonomi kita hanya semu", ujar Irman saat menjelaskan mengenai kondisi ekonomi yang kurang berpihak pada rakyat.
 
Irman Gusman berpendapat bahwa, sebenarnya pondasi dari perekonomian nasional adalah pasar tradisional. "Setelah ekonomi kolaps, di beberapa daerah tumbuh kegiatan perekonomian dari rakyat yang berupa pasar tradisional yang memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi", ujarnya. 
 
Irman menambahkan bahwa pedagang dan pasar tradisional harus benar-benar diperhatikan oleh Pemerintah dalam membangun ekonomi kerakyatan. "Perhatian yang khusus harus diberikan oleh pemerintah kepada pasar tradisional dalam konsep Ekonomi Kerakyatan Nawacita, dan tugas kami di DPD RI adalah mengawasi Nawacita bisa dilaksanakan, khususnya pada aspek pasar tradisional", ujar Irman.
 
Senada dengan Irman Gusman, Abdullah juga menyatakan bahwa saat ini kehidupan pedagang pasar tradisional sangat memprihatinkan. "Karena mereka harus membayar berbagai iuran dan retribusi yang sangat tinggi. Uang retribusi yang dibayarkan oleh pedagang ke Pemda, tidak dikembalikan lagi ke pasar tradisional. Hal tersebut yang menjadi penyebab kondisi lingkungan pasar yang memprihatinkan", ujarnya.
 
Selain itu, para pedagang di pasar tradisional juga mengalami persoalan lain, salah satunya dengan keberadaan pasar modern. Abdullah mengatakan bahwa untuk dapat mengembalikan kondisi pasar tradisional agar menjadi vital lagi, keberadaan pasar modern harus diatur dengan peraturan yang jelas. Mulai dari barang yang dijual, penempatan, atau jam operasional dari pasar modern. Permasalahan lain yang dihadapi oleh pedagang pasar tradisional adalah susahnya akses terhadap permodalan.
 
Penanganan terhadap permasalahan pasar tradisional juga berpengaruh terhadap permasalahan kemiskinan. Keberadaan pasar tradisional memberikan wadah jual beli bagi sebagian masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai petani dan nelayan. Oleh karena itu, dengan adanya vitalisasi dari pasar tradisional, maka juga akan memberikan keuntungan bagi para petani dan nelayan. "Indonesia akan gagal mengatasi kemiskinan jika para petani dan nelayan tidak diperhatikan, karena peran mereka sangat besar di Indonesia, ucap Daniel.
 
Daniel juga mengungkapkan bahwa kemiskinan hanya bisa diatasi kalau Indonesia bisa mengangkat harkat martabat dan kehidupan dari petani dan nelayan dengan membangun desa. Semua aktivitas berawal dari desa, mulai dari petani, nelayan, pedagang. Jumlah masyarakat yang berprofesi sebagai petani atau nelayan sangat besar, maka jika kelompok tersebut menjadi sektor strategis dalam membangun ekonomian nasional, maka pertumbuhan ekonomi akan tercipta.
 
Menanggapi persoalan dalam permasalahan di pasar tradisional dalam konsep ekonomi kerakyatan, Rahmat Gobel menyatakan bahwa saat ini Pemerintah sebenarnya juga menyadari peranan dari pasar tradisional terhadap pertumbuhan perekonomian. "Ekonomi kerakyatan yang sesuai dengan kerangka nawacita adalah komitmen dari pemerintah yang harus diwujudkan", ujar Rahmat. 
 
Untuk dapat menghidupkan kembali pasar sebagai aspek vital perdagangan, maka diperlukan sebuah penataan dan manajemen yang baik. Pasar harus mampu menjadi area transaksi perdagangan dengan manajemen yang jauh lebih lebih baik dari sekarang. Mulai dari manajemen suplai barang agar lebih lengkap, kebersihan dan kenyamanan, dan pasar dijadikan sebagai area yang mampu membuat masyarakat untuk datang.
 
"Pemerintah juga akan memfokuskan pada kesiapan pasar dalam menghadapi era globalisasi juga harus diperhatikan", ujar Rahmat Gobel. Rahmat menambahkan bahwa untuk tetap menjaga keberadaan pasar tradisional dalam kerangka nawacita adalah dengan adanya upaya dari berbagai pihak, terutama dalam menciptakan swasbada pangan. Mulai dari kebijakan impor, peningnkatan hasil bumi, peningkatan usaha mikro, dan peningkatan konsumsi produk dalam negeri.
 
Peran pasar sebenarnya sangat vital bagi perekonomian nasional. Selain menjadi pondasi dasar perekonomian, pasar tradisional juga mampu digunakan untuk memaksimalkan hasil bumi yang dikelola para petani. Tentunya saat ini keberadaan pasar harus benar-benar diperhatikan, terutama mengenai kesiapan dalam menyambut era globalisasi. Jika tidak, maka kedepannya pasar akan kalah dengan keberadaan pasar modern. DPD RI sendiri telah cukup lama memberikan perhatian mengenai keberadaan pasar tradisional sebagai pondasi perekonomian nasional. 

Bentuk perhatian tersebut terlihat saat Irman Gusman mencanangkan gerakan nasional belanja ke pasar tradisional di Solo pada awal tahun 2014. Gerakan tersebut merupakan bentuk kepedulian Irman Gusman dan DPD RI karena adanya keprihatinan dan kegelisahan pedagang pasar tradisional yang kini semakin kalah bersaing dengan keberadaan pasar ritel modern, baik berupa mini market dan Mall yang tumbuh subur di perkotaan dan pedesaan. (ars)

17 Mei 2015
Kembali
LIVE STREAM