x
GKR. Hemas: Percepat Pengembangan Energi Terbarukan demi Pembangunan Berkelanjutan

Wakil Ketua DPD RI GKR. Hemas bersama Ketua Komite II DPD RI Parlindungan Purba menghadiri International Symposium on Climate Technology Cooperation 2016 di Gwangbok Hall Annex, Yonsei University, Seoul, Korea (29/11/2016).

Memenuhi undangan Menteri Ilmu Pengetahuan, Teknologi Komunikasi dan Informasi, dan Perencanaan Masa Depan Republik Korea, pada kesempatan tersebut GKR. Hemas menyampaikan paparan tentang Energi Terbarukan di Indonesia pada Sesi III dengan tema “Direction of Climate Technology Cooperation – Endeavors toward a Sustainable Society.”

“Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi baru dan terbarukan seperti tenaga matahari (surya), angin, biomassa, gelombang laut, energi air (hidro) dan panas bumi (geothermal), termasuk yang berbahan dasar limbah (pembangkit listrik berbasis limbah/ sampah). Namun, penggunaan energi terbarukan di Indonesia masih sekitar 10 persen,” ujar Hemas.

Pengembangan energi terbarukan perlu dilakukan guna mengatasi persoalan sumber energi fosil yang semakin menipis. Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan konsumsi energi terbesar di dunia. Berdasarkan data Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Outlook Energi Indonesia 2015, konsumsi energi final di Indonesia meningkat dari 778 juta Setara Barel Minyak (SBM) pada tahun 2000 menjadi 1.211 juta SBM pada tahun 2013 atau tumbuh rata-rata sebesar 3,46% per tahun. Pemerintah Indonesia bertekad akan memperbesar porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi sehingga Indonesia tidak terlalu bergantung pada energi fosil, meski dibutuhkan biaya investasi yang besar USD 135 miliar.

Dengan jumlah populasi terbesar ke-4 di dunia serta pembangunan yang terus dilakukan maka mau tidak mau dibutuhkan sumber energi yang menyokongnya, tidak hanya mengandalkan energi fosil. Sebagai contoh penyediaan arus listrik. Dibanding sektor lain, konsumsi listrik hanya 17 persen. Tidaklah heran ada 12,659 daerah pedesaan mengingat mereka tidak punya listrik penuh, dan 2,519 benar-benar tidak ada akses listrik. Itulah mengapa pemerintah saat ini menetapkan target pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt dalam lima tahun ke depan. Ini sejalan dengan target pemerintah bahwa pada 2045, energi terbarukan adalah sumber energi utama Indonesia, sebesar 29 persen.

Pada tataran regulasi untuk mendukung upaya dan program pengembangan energi terbarukan sudah diatur mulai dari Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, Undang-Undang No. 30/2007 tentang Energi, hingga Permen dan Kepmen ESDM.

“Kami menyadari keberhasilan untuk mengembangkan potensi energi terbarukan sebagai kunci untuk memerangi perubahan iklim, harus dilakukan secara bersama seluruh pihak,baik itu kementerian, universitas, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil. Tak terkecuali kerja sama dengan negara lain, termasuk dengan Korea Selatan. Kami selaku Dewan Perwakilan Daerah tentu berkomitmen membantu mewujudkan kerja sama kemitraan strategis antar kedua negara untuk mempercepat optimalisasi pemanfaatan energi terbarukan demi terwujudnya kesejahteraan seluruh rakyat sebagaimana amanat Pembukaan dan Pasal 33 Konstitusi Indonesia,” tegas Hemas disambut tepuk tangan peserta simposium.   

  

01 Desember 2016
Kembali
LIVE STREAM