Paulus Y. Sumino: Pemimpin yang Merakyat untuk Calon Presiden 2014

Jakarta, dpd.go.id – Meskipun pemilu Presiden baru akan dilaksanakan dua tahun mendatang, namun survei mengenai calon-calon yang akan dipilih rakyat sudah dilakukan oleh beberapa lembaga, salah satunya Saiful Mujani Research and Consulting. Hasil survey dengan pertanyaan terbuka menunjukkan bahwa tokoh-tokoh lama seperti Prabowo dan Megawati menduduki peringkat tertinggi walaupun persentasenya kecil. Sementara itu, 60% responden mengaku masih belum punya pilihan calon untuk menjadi presiden di tahun 2014 nanti.

Hasil tersebut disampaikan oleh Grace Natalie, CEO Saiful Mujani Research and Consulting, dalam Talk Show DPD RI Perspektif Indonesia, Jum’at (13/07/2012). Bertempat di Press Room DPD RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Grace juga mengatakan bahwa rakyat lebih menghendaki pemimpin yang bisa dipercaya atau amanah. “Amanah dan integritas sangat diharapkan oleh rakyat, sedangkan segi kompetensi tidak terlalu menonjol di sini,” kata Grace yang juga seorang presenter.

Kemudian, dalam dialog yang mengangkat tema “Sosok Alternatif Calon Presiden” tersebut, Paulus Yohanes Sumino membeberkan kunci utama calon pemimpin Indonesia. “Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat dan mau mendengar rakyat, itu kuncinya,” ungkap Anggota DPD RI dari Provinsi Papua ini. Menurut Sumino lagi, partai politik belum bisa melahirkan pemimpin-pemimpin yang diharapkan rakyat dan lebih cenderung mencalonkan ketuanya sehingga Sumino mendukung lahirnya calon-calon independen. “Jika tidak begitu, saya dukung parpol untuk melakukan konvensi karena partai besar sudah terbelenggu keinginan pemimpin,” imbuhnya.

Mengenai tokoh alternatif, Berry Nahdian Furqan memandang tokoh yang anti korupsi akan menduduki peringkat tinggi. Tokoh alternatif ini harus diberi peluang oleh parpol. “Bangsa ini membutuhkan perubahan radikal yang harus dipaksakan oleh rakyat. Parpol harus membuka ruang selebar-lebarnya bagi para tokoh alternatif,” terang Direktur Eksekutif Nasional WALHI (Wahana Lingkungan Hidup) ini.

Melihat dari sudut pandang lain, Ahmad Najib Burhani berpendapat bahwa presiden di masa mendatang harus merupakan presiden untuk semua, bukan hanya untuk kelompok tertentu. “Siapapun yang menjadi presiden nanti, harus menerapkan demokrasi secara otentik dengan melindungi kelompok minoritas,” ucap Peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI ini. Alasannya, jika presiden terpilih tersebut tidak dapat melindungi kelompok minoritas nilai demokratisnya akan hilang. (af/saf)

This post is also available in: English

Bagikan  

Belum ada komentar

WP-Highlight