Indonesia: Rumah Besar ber-Bhinneka Tunggal Ika
Jakarta, dpd.go.id – AIDA Ismeth, anggota DPD RI asal Provinsi Kepulauan Riau menyatakan keprihatinannya atas cobaan yang sedang melanda Indonesia berupa kekerasan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia seperti Maluku dan Papua. “Bagaimana rasa kesatuan bangsa kita ini? Saya merasa prihatin, saya ingin melihat bangsa ini menjadi bangsa yang kokoh,” ungkapnya dalam Dialog Kenegaraan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (26/10/2011). Menurut, kekerasan yang mengancam keutuhan wilayah NKRI tersebut dipengaruhi oleh faktor kemiskinan dan kebodohan. Untuk itu, Aida mengajak untuk bersama-sama memperjuangkan kesatuan dan membangun bangsa Indonesia.
Sementara itu, Afnan Hadikusumo, anggota DPD RI dari Daerah Istimewa Yogyakarta memandang hal tersebut disebabkan oleh komitmen berbangsa dan bernegara yang saat ini turun. “Dulu, para founding fathers memikirkan bagaimana bangsa ini merdeka, tetapi politisi jaman sekarang adalah politisi karbitan yang pragmatis,” jelas Afnan. Peran DPD sendiri menjadi sangat strategis karena memperjuangkan kepentingan daerah secara umum, tidak hanya daerah yang diwakili saja. “DPD sudah merencanakan program Penguatan Potensi Daerah yang disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing,” Afnan menguraikan dalam dialog yang bertajuk “Menjaga dan Memperkuat Kemajemukan Bangsa: Memelihara NKRI” ini.
Menanggapi permasalahan tersebut, Hamdi Muluk mengajak kita untuk melihat ke belakang, bagaimana negara bernama Indonesia ini terbentuk. “Ibarat rumah, Indonesia adalah rumah besar yang terdiri atas kamar-kamar yang terbentuk dari beragam SARA (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan). Uniknya, kamar-kamar tersebut lebih dulu ada baru kemudian dibangunlah rumah Indonesia oleh para founding fathers karena kesadaran mereka untuk membangun Indonesia,” papar Guru Besar Psikologi UI ini. Hamdi menambahkan, agar kesatuan Indonesia tetap terjaga, Bhinneka Tunggal Ika harus digunakan secara konsisten dalam penyelenggaraan negara.
Dalam kesempatan yang sama, Roy BB Janis mengungkapkan bahwa bangsa ini akan aman-aman saja selama tetap pada jalur proklamasi. “Pancasila tidak akan dilupakan oleh rakyat, justru saya khawatir Pancasila yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 ini diselewengkan oleh elit politik,” Roy menuturkan. Jika ternyata permasalahan bangsa ini tak kunjung usai, Roy mewacanakan perlunya diadakan revolusi sebagai langkah terakhir yang harus ditempuh. “Tentunya bukan revolusi yang menggunakan kekerasan, tetapi revolusi struktural mendasar,” terang Ketua Umum PDP ini. (af)
This post is also available in: English

26. Okt, 2011 







































Perjuangkan Hak Keuangan Daerah Dari Penerimaan Negara Bukan Pajak –
Jakarta, dpd.go.id — Komite IV DPD RI Bentuk Tim Kerja dan [...]
Belum ada komentar