Cegah Indonesia Menjadi Negara Gagal dengan Semangat Sumpah Pemuda
Jakarta, dpd.go.id – “Masih Adakah Semangat Sumpah Pemuda?” menjadi tema dalam dialog perspektif Indonesia yang diselanggarakan oleh Dewan Perwakilan Daerah RI (DPD RI) bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda ke-83, di Kompleks Parlemen, Senayan-Jakarta, Jum’at, (28/10/2011).
Tidak hanya pemuda yang aktif dalam organisasi yang dihargai karena memiliki semangat Sumpah Pemuda dan memberikan kontribusi untuk negara tetapi pemuda yang berprestasi juga perlu dihargai. ”Banyaknya pemuda yang menyumbangkan prestasinya untuk Indonesia menjadi salah satu bukti masih adanya semangat Sumpah Pemuda di Indonesia walaupun sebenarnya pemerintah kurang menghargai prestasi yang telah mereka buat”, ungkap Muh.Asri Anas, Anggota DPD RI Sulawesi Barat. Asri juga menyampaikan bahwa DPD RI sangat mendukung Amandemen ke-5 UUD 1945 yang mengatur tentang calon Presiden Independent agar para pemuda, termasuk di daerah, berpeluang untuk ikut aktif dalam menata ulang pembangunan Indonesia.
Sementara itu, JJ Rizal megungkapkan bahwa pemuda Indonesia sekarang ini berpikir matrealistis dan cenderung berusaha memperkaya diri sendiri. ”Seharusnya pemuda Indonesia menyadari 3 hal, yaitu muda, maju dan sadar agar mereka lebih bisa menempatkan diri sesuai dengan apa yang diinginkan pencetus Sumpah Pemuda”, ujarnya sebagai seorang sejarawan.
Di sisi lain, Muh. Fadjroel Rachman, berpendapat bahwa Indonesia dibentuk oleh kaum muda, akan tetapi justru dirusak oleh kaum tua. Buktinya adalah ketidakadilan sosial yang terjadi serta politik yang tidak sehat. Karenanya, Pengamat Sosial Politik ini mengusulkan, ”Kita perlu melakukan regenerasi politik dan regenerasi ekonomi agar keadilan sosial bisa dijalankan.”
Pemuda saat ini yang sering dikatakan sebagai calon pemimpin masa depan di mata Adhyaksa Dault hanya menjadi isapan jempol manakala proses untuk menjadikan mereka pemimpin dilupakan. Ke depan, bangsa ini harus mampu menciptakan politisi yang negarawan, yaitu yang menjadikan dirinya sebagai pelayan bangsa dan negara, bukan sebaliknya. Lebih jauh, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Periode 2004 – 2009 ini menyampaikan bahwa cara berpikir, berkehendak, dan bertindak para elit politik bangsa ini juga berpengaruh. ”Indonesia dikatakan menuju negara gagal dan tercatat dalam daftar 14 negara gagal, indikatornya sudah ada, maka kita harus menjaganya, jangan sampai itu terjadi,” tandasnya. (dv/af)
This post is also available in: English

28. Okt, 2011 







































Perjuangkan Hak Keuangan Daerah Dari Penerimaan Negara Bukan Pajak –
Jakarta, dpd.go.id — Komite IV DPD RI Bentuk Tim Kerja dan [...]
Belum ada komentar