Perbaikan Kredibilitas Sistem Pemilu Melalui Amandemen Konstitusi

Jakarta, dpd.go.id – Mencermati carut-marut persoalan pemilu di Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah RI mengusulkan pembagian pemilu menjadi dua tingkat, yaitu tingkat nasional dan dan lokal. Pemilu tingkat nasional meliputi pemilihan Presiden, Wakil Presiden, DPR dan DPD, sedangkan pemilu tingkat lokal memilih gubernur, bupati/walikota, serta DPRD Provinsi/Kota. Salah satu tujuannya adalah agar masyarakat bisa berpolitik secara cerdas. Menurut Refly Harun (Pengamat Hukum Tata Negara/Peneliti CETRO), pembagian tersebut secara teknis memudahkan pelaksanaan pemilu. “Ide pembagian yang diusulkan DPD tersebut sangat penting,” ujar Refly dalam kesempatan Dialog “Perspektif Indonesia” di Gedung DPD RI Jakarta (8/7/11).

Dalam dialog bertema “Membenahi Sistem Pemilu Melalui Perubahan Kelima UUD 1945” tersebut, Valina Singka Subekti, mantan anggota KPU 2004, menyatakan gembira atas usulan tersebut. Menurutnya, sistem pemilu Indonesia adalah system pemilu paling kompleks di dunia. Sementara UU yang saat ini mengatur penyelenggaraan pemilu belum mampu memenuhi kehendak konstitusi. “Pemilu adalah pintu gerbang demokrasi, jika sistemnya tidak baik maka dapat merusak demokrasi itu sendiri,” tuturnya. Valina mengungkapkan beberapa manfaat pembenahan sistem pemilu, yaitu mendukung pembentukan sistem presidensil yang kuat, koalisi dibentuk atas ikatan nilai, meminimalkan kemungkinan terjadinya konflik, dan lebih menghemat biaya.

Sedangkan harapan masyarakat secara umum adalah pelaksanaan pemilu yang praktis, efisien, tidak boros, dan tidak curang. “Hal itu bisa terwujud jika moral, mental, dan karakter bangsa kita baik. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkannya,” kata artis senior Pong Harjatmo yang sempat menuliskan kata “Jujur, Adil, Tegas” di atap Gedung parlemen.

(af/saf)

This post is also available in: English

Bagikan  

Satu Tanggapan pada “Perbaikan Kredibilitas Sistem Pemilu Melalui Amandemen Konstitusi”

  1. Erwin Amar,SH. 12. Jul, 2011 pada 11:57

    DEMOKRASI SOLUSI NEGERI
    Oleh : Erwin Amar,SH.

    Dalam perjalanan panjang menuju kematangan demokrasi, terlihat berbagai keanehan diluar akal sehat dalam praktek kenegaraan dan kebangsaan, terjadinya berbagai permasalahan dan carut marutnya negeri ini, bahkan nyaris menjadi negara bangkrut jawabannya hanya DEMOKRASI, begitu mahalnya Demokrasi itu. memang tidak mudah membangun demokrasi, Demokrasi itu adalah suatu cara bagaimana seharusnya mentata dan mengelola negara secara ideal (core philosofie). Demokrasi itu suatu konsep systim yang menyeluruh dan universal, hanya orang beridealis tinggi dan orang yang berilmu serta merasa bertanggung jawab terhadap bangsa sajalah yang bisa memahaminya.
    Para filosof seperti Plato, Parsiles, Socraates , Aristoteles dan Sultan Agung Iskandar Zulkarnaen jauh sebelum masehi sudah mulai memikirkan sistim pemerintahan rakyat ini, kemudian pada abad ke 14 dikembangkan lagi oleh Machiaveli, jhon lock, Montesqiu, Rousseu dan Immanuel Kant dan berkembang sampai sekarang, Pada saat kemerdekaan 17 Agustus 1945 Founding father kita Bung Karno , Bung Hatta dan Mr.M.Yamin telah berupaya secara maksimal dengan segala kemapuannya untuk mewujudkan Demokrasi yang pas dan cocok untuk negeri ini, namun karena keterbatasan kemampuan belum barhasil, Bung Karno berkata “ Revolusi belum selesai “ kemudian untuk mewujudkan demokrasi itu dilanjutkan lagi oleh Pak Harto, masih juga gagal sampai sekarang ini.
    Demokrasi masih belum menemukan bentuk sejatinya. telah mengakibatkan semua orang terjebak dalam sifat materialistis dan kembali menjadi jahiliyah. Demokrasi tidak mungkin terwujud dengan berfikir secara serabutan dan aji mumpung dan atau dengan pemaksaan kehendak serta pemaksaan kemampuan berfikir dengan merncoba-coba atau mereka-reka, apaalagi mengada-ada tetapi sangat diperlukan ketenangan, kesabaran dan teliti dalam berfikir, banyak belajar dan bertanya kepada orang yang mengerti dan berilmu pengetahuan terutama mengenai perjalanan sejarah dan budaya bangsa,naumun disayangkan sejak reformasi filosofi bangsa Pancasila dilupakan, karana takut disebut antek orde baru, negara berjalan bagaikan tanpa ideologi, menjadikan negara semakin terpuruk, Berbagai permasalahan muncul silih berganti tiada henti yang sulit dan rumit untuk mengatasinya dan berada dalam kebuntuan.
    Dalam situasi negara mengalami krisis multidimensional yaitu krisis dihampir seluruh sisi kehidupan.salah satu kebijakan Presiden BJ.Habibie membuka pintu demokrasi selebar-lebarnya dengan memperbolehkan pembenbentukan Partai Politik baru, kesempatan ini dimamfaatkan oleh sebagian besar anak bangsa dengan mendirikan partai politik tanpa memperhatikan permasalahan besar yang dihadapi banagsa, tidak menghiraukan idealisme dan kemampuan untuk terjun ke kancah politik, ikut-ikutan menjadi Pengurus Parpol dan Caleg yang jumlah mencapai hampir 50 parpol baru, sewaktu kampanye satu kampung dipenuhi bendera partai ,sehingga tejadi pergeseran hubungan kekeluargaan, mereka beradu keberuntungan melalui pemilu, penyesalan muncul bagi caleg yang gagal, kegembiraan dirasakan bagi caleg yang lolos, pelantikanpun dilakukan dengan acara yang begitu meriah, selanjutnya anggota dewan terhormat sibuk tiap hari melakukan perubahan penampilan mulai dari ke salon kecantikan, sepatu ,pakaian, jas, Handphone, laptop,mobil,rumah, angsuran hutang kampanye ikut kunker,reses, sidang, jadi, calo anggaran , studi banding, minta kenaikan gaji , tunjangan, staf ahli dan fasitlitas lainnya serta persiapan untuk membesarkan partai, saking begitu sibuknya sehingga lupa dengan rekan tim sukses dan masyarakat atau konstituennya,rakyat lelah dalam penantian datangnya perubahan kehidupan yang lebih baik dan kesejahteraan, namun apa hendak dikata rakyat harus tetap bersabar menjalani hidup dalam kesusahan dan kemiskinan, janji kampanyepun lupa untuk memperjuangkannya sampai ketemu pada pemilu berikutnya..
    Duduk di kursi sidang tidak betah,tidak tertarik, dan tidak kerasan , pikiran melayang, karena tidak menguasai dan memahami tugas dang fungsi lembaganya, dalam persidangan , sering bolos,tertidur, mengotak atik heandphoe, ada yang nonton film porno melalui handphonenya,bangga .setiap hari diliput media cetak dan elektronik, nama muncul dikoran dan televisi hingga lupa dengan krisis yang sedang dialami bangsa dan tidak berupaya dengan sungguh-sungguh mencarikan solusinya. Situasi dan dondisi yang kita rasakan saat ini , tidak perlulah risih dan merasa sakit hati, menuding , memfitnah apalagi marah-marah atau demontrasi, itu semua terjadi bukanlah kesalahan mereka tetapi hanya karena ketidaktahuan mereka dengan arti, makna dan tujuan DEMOKRASI yang sering diucapkan selama ini, apalagi bagi yang tidak ikut menjadi pengurus dan anggota partai politik dan tidak pula berkecimpung di Pemerintahan tentunya lebih tidak tahu dan paham lagi. Kita tanpa disadari kini sedang terjebak dalam kesalahan massal. Apa yang dilakukan dan diperbuatnya biarlah mereka yang mempertanggung jawabkan sendiri dihadapan Tuhannya, kita hanya bisa berdoa kedada Tuhan YME mudahan dibukakan hati dan pikiran bagi mereka yang duduk di Pemerintahan baik yang di Eksekutif,di Legislatif maupun di Yudikatif untuk koreksi diri dan kembali peduli serta secara bersama-sama mencarikan solusi berbagai permasalahan yang melilit bangsa kita saat ini guna mengatasi kebangkrutan dan keghancuran bangsa yang lebih parah lagi. Mari kita pelajari dan pahami lagi demokrasi, karena merupakan solusi negeri.

WP-Highlight