Mengimplementasikan Pancasila dengan Scientific Sila-sila Pancasila

Menurunnya implementasi nilai-nilai Pancasila menjadi tantangan serius bangsa Indonesia. Hal ini dikaji dalam seminar sesi 2 (dua) yang digelar DPD RI dalam peringatan hari Kebangkitan Nasional dan hari lahir Pancasila, Kamis 19/5/2011 di Plaza Nusantara V, Senayan, Jakarta. Seminar tersebut membahas topik “Kebangkitan Parlemen Indonesia sebagai Penopang Dasar Aktualisasi Budaya Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara”. Yudi Latif, Direktur Eksekutif Reform Institute, menggagas sebuah pendekatan baru untuk Pancasila yang disebutnya dengan scientific Pancasila. “Banyak orang berbicara tentang Pancasila, tetapi tidak ada upaya yang sungguh-sungguh dalam mengimplementasikan nilai-nilainya. Untuk itu, diperlukan sebuah pendekatan ilmiah terhadap Pancasila,” ujar Yudi Latif. Menurutnya, penyebab diabaikannya Pancasila adalah kegagalan pengakaran dan implementasi ideologi Pancasila.

Dr. Azis Syamsuddin, Wakil Ketua Komisi III DPR RI (pembicara), mengangkat isu pentingnya kebangkitan parlemen agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Parlemen dikatakan telah mengamalkan Pancasila jika mereka telah memberikan manfaat bagi masyarakat. “Jika parlemen tidak bersinergi, maka semua itu akan sia-sia,” imbuhnya. Selain itu, Azis juga menyarankan agar parlemen mendayagunakan seluruh potensi yang ada untuk mewujudkan nilai butir-butir Pancasila.

Saat ini masyarakat sangat merindukan Pancasila terutama dalam implementasi sila pertama. Pandangan ini disampaikan oleh Wahyu Muryadi, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo. Menurutnya, parlemen tidak banyak bersuara jika terjadi perusakan yang berkaitan dengan keyakinan, misalnya Ahmadiyah. “Pemerintah kita tidak berdaya menghadapi anarkisme, padahal seharusnya negara tidak boleh kalah terhadap anarkisme atas nama agama,” ujarnya. Terkait dengan implementasi sila pertama, pemerintah harus mewaspadai gerakan pencucian otak yang belum lama ini mencuat di permukaan. Apalagi trend radikalisme serta angka intoleransi semakin tinggi.

Senada dengan Wahyu Muyardi, Bambang Soeroso, Ketua Kelompok DPD di MPR RI, mengemukakan bahwa terabaikannya Pancasila terjadi karena pergeseran akhlaq. “Aspek budi pekerti tidak lagi diajarkan di sekolah. Nilai-nilai moral dan budaya kita juga semakin luntur” dijelaskan oleh ketua Kelompok DPD di MPR RI. (AF/SAF)

This post is also available in: English

Bagikan  

Belum ada komentar

WP-Highlight