Sekretariat Jenderal DPD dan DPR menimba ilmu dari staff Senator AS
Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat mengadakan diskusi dengan Keith Luse, anggota senior staf professional dari Senator Lugar, Senat Amerika Serikat. Pembahasan diskusi tersebut adalah penjelasan tentang pengalaman dalam sistem pendukung bagi parlemen. Acara tersebut langsung dibuka oleh Sekretaris Jenderal DPD, Siti Nurbaya Bakar serta Deputi Sekretaris Jenderal DPR bidang anggaran dan pengawasan, Winantuningtyastiti. Acara tersebut diikuti oleh pejabat, pegawai, dan staf ahli yang mendukung pelaksanaan tugas Alat Kelengkapan di DPD dan DPR. Diskusi berlangsung di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jum’at (9/7).
Siti Nurbaya Bakar mengatakan pentingnya menimba ilmu dari Keith Luse, karena selama ini parlemen membutuhkan pengetahuan mengenai manajemen sistem pendukungnya. Apalagi Keith Luse telah lama berkecimpung di dunia parlemen. Ia telah bekerja sama dengan Senator Lugar di Senat selama 20 tahun. Kini, spesialisasi Keith Luse adalah Urusan Asia Timur dan Pasifik di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS.
Keith mengatakan staf komite diharapkan memiliki spesialisasi, walaupun ia menganggap dirinya masih generalisasi. Alasannya, setiap hari seorang staf bisa menangani berbagai isu, sehingga harus memiliki wawasan yang luas. “Yang penting kita harus tahu kemana mencari informasi, sehingga informasi yang kita berikan pada parlemen selalu akurat dan update”, ujar Keith.
Menurut Keith tantangan terberat adalah melakukan check dan re-check, untuk memastikan keakuratan data dan informasi yang telah dikumpulkan. Dalam kesempatan tersebut, Keith memuji konsulat Indonesia di Washington yang selalu memberikan update, sehingga sangat membantu kerja staf parlemen.
Selanjutnya Keith menerangkan fungsi staf parlemen dalam badan legislatif yaitu mempelajari dan membahas undang-undang yang dirancang agar sesuai standar, sehingga ada konsistensi, format dan struktur yang sama. Setelah UU disetujui oleh senator yang bersangkutan, maka tugas staf-lah yang melakukan pendekatan dengan senator lainnya untuk mendukung rancangan undang-undang yang dibuat tersebut.
Selain peran staf, Keith juga menerangkan bahwa senator bisa menentukan staf yang diperlukan berdasarkan anggaran yang sudah disediakan. Senator tersebut diharapkan memilih staf yang tepat, karena anggota senat dievaluasi akuntabilitasnya terhadap konstituen mereka. “Jika konstituen tidak ditanggapi oleh anggota parlemen, maka dia berhak melaporkan ke media”, kata Keith.
Pemaparan Keith Luse, ditanggapi oleh peserta dengan mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal penting yang harus dimiliki oleh seorang staf agar efisien mendukung anggota parlemen dan cara menjaga hubungan antara anggota senat dan kongres.
Hal penting yang harus dimiliki seorang staf parlemen adalah memiliki manajemen waktu yang baik serta memiliki pengetahuan mengenai prioritas terhadap isu-isu yang berkembang. “Supaya efektif mendukung anggota, staf harus tahu prioritas anggota tersebut dan cari tahu apa yang dirasa penting bagi anggota. Staf juga harus tahu apa yang diinginkan konstituten”, jelas Keith. Mengenai menjaga hubungan antara anggota senat dan kongres, Keith mengatakan triknya hanyalah komunikasi yang berkelanjutan.
Siti Nurbaya Bakar, juga sependapat dengan Keith Luse bahwa tugas staf Sekretariat Jenderal sangat berat, karena harus menjamin akurasi informasi. “Selalu saya katakan juga pada Sekretariat DPD, bahwa kita punya tugas berat berupa akurasi, baik dalam tugas konstitusional dan akurat dalam prosedur, dan tadi ditambahkan Pak Keith akurat dalam narasumber dan posisi performance anggota kita,” ungkap Siti Nurbaya. Siti juga berharap diskusi yang dilaksanakan bersama DPR tersebut, menjadi permulaan yang baik bagi kedua lembaga.
Program NDI dan IRI di Indonesia
Dalam diskusi tersebut, National Democratic Institute (NDI) dan International Republic Institute (IRI) mempresentasikan programnya di Indonesia. Dalam 2,5 tahun ke depan NDI dan IRI akan fokus di partai dan fraksi-fraksi untuk mendiskusikan kebijakan dengan warga sipil. Program lainnya adalah memperkuat peran legislator perempuan untuk mengambil peran progresif dan kepemimpinan di masing-masing partai politik. NDI dan IRI juga membuat networking untuk mematangkan pengalaman para legislator perempuan dan mendorong mereka untuk bergerak di isu-isu yang berhubungan dengan anak-anak dan perempuan.

09. Jul, 2010 







































Penjabaran awal naskah akademik dan draft RUU Provinsi Kepulauan oleh Tim Pakar, Ronald Zelfianus Titahelu dan Kotan Y. Stefanus, menjadi [...]
Belum ada komentar