Di Pekanbaru, Irman Gusman kunjungi kerja sehari
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman selama sehari, Jumat (26/3), kunjungan kerja di Pekanbaru, Riau. Didampingi Gubernur Riau M Rusli Zainal dan ketiga anggota DPD asal Riau (Abdul Gaffar Usman, Maimanah Umar, Muhammad Gazali), selama di sana Irman mengunjungi Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi Riau dan berdialog dengan jajaran Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Riau yang diketuai Raja Sofyan Samad.
Di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi Riau yang dikepalai R Muhammad Yamin, Rusli menjelaskan, Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Riau dibentuk sebagai unsur penunjang tugas tertentu Pemerintah Provinsi Riau untuk melayani pengurusan izin dan rekomendasi dunia usaha. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Riau bertugas melaksanakan koordinasi dan layanan administrasi di bidang pengurusan izin dan rekomendasi yang menjadi wewenang Pemerintah Provinsi Riau.
Jika sebelumnya pengurusan di dinas atau badan, kini di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Riau. Pelimpahan dan pendelegasian perizinan dari satuan kerja (satker) ke Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Riau mengacu kepada instruksi Badan Koordinasi Penamaman Modal (BKPM) Pusat agar seluruh daerah membuat sistem pelayanan terpadu satu pintu (one stop service) yang memudahkan investasi di daerah dan meningkatkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA).
Diharapkan, Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Riau yang bervisi “Prima dalam pelayanan, tanggap terhadap keluhan” menciptakan iklim yang kondusif bagi masyarakat, khususnya dunia usaha, dan membentuk citra yang positif dalam pelayanan yang cepat, efisien, responsif, integratif, dan akuntabel. “Mereka mendapat insentif,” ujar Rusli mengenai pegawai Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Riau.
Selanjutnya, bersama Gubernur Sumatera Barat Marlis Rachman dan istrinya, Irman bertemu dengan jajaran redaksi Harian Umum Riau Mandiri yang pimpinan redaksinya adalah Dheni Kurnia dan mengunjungi PT Riau Agro Mandiri (RAM), perusahaan integrated farm yang usaha spesialisnya adalah peternakan sapi dari hulu hingga hilir di areal 300 hektar, Muara Fajar, Rumbai. Basrizal Koto, biasa dipanggil Basko, dan puteranya, Zico Putra Basko, mendampingi Irman dan Marlis mengelilingi lokasi breeding, fattening, dan dairy catle PT RAM.
Basrizal menjelaskan, PT RAM berangkat dari keinginan memenuhi kebutuhan daging di Sumatera dan nasional, PT RAM bertekad memasok daging dan susu. Sekarang ini, kebutuhan daging yang mencapai 413.905 ton atau setara 3.340.370 ekor sapi potong dipenuhi melalui impor. Sedangkan kebutuhan susu yang mencapai 1.747.375 ton hanya terpenuhi 633.825 ton.
Menjelang siang harinya, Irman bersama Rusli menunaikan shalat Jumat di Mesjid Al-Khautsar, sekaligus menyerahkan bantuan. Rusli bertindak selaku khatib dan imam.
Kantor DPD di Ibukota Provinsi
Di hadapan jajaran redaksi Riau Mandiri, Irman mengatakan, setiap ibukota provinsi akan memiliki Kantor DPD yang menjadi bagian struktur Sekretariat Jenderal DPD dan kepanjangan DPD dalam menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat dan daerah. Ditargetkan selesai akhir tahun 2011, dana pembangunannya bersumber dari APBN yang lokasi dan tanahnya disumbang masing-masing pemerintah daerah provinsi.
Berapa dana pembangunan kantor DPD? Irman mengatakan, kantor DPD yang dibangun berbiaya Rp 40 miliar. Meskipun demikian, mengoptimalkan pemanfaatan aset pemerintah daerah yang tidak digunakan (idle asset), pengadaan lahan/tanah Kantor DPD di setiap ibukota provinsi adalah hibah. Keberadaannya sangat penting seiring penguatan fungsi, tugas, dan wewenang DPD.
Membuka Mubes IKMR
Malam harinya, di Ruang Hang Tuah Hotel Mutiara Merdeka, Irman membuka Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Keluarga Minang Riau (IKMR). Acara tersebut dihadiri dua gubernur, yakni Gubernur Riau M Rusli Zainal dan Gubernur Sumatera Barat Marlis Rachman.
Dalam sambutannya, Rusli mengatakan, meski dikenal sebagai masyarakat yang gemar merantau, kini orang Minangkabau tidak lagi dianggap sebagai warga pendatang. Pasalnya, dengan pepatah “Di ma Bumi dipijak, di sinan Langik dijunjuang. Di ma sumua digali, di sinan aia disauak. Di ma nagari dihuni, di sinan adaik dipakai” masyarakat Minang di perantauan menyatakan kesiapannya membangun negeri tanpa melupakan adat dan istiadat kampung halamannya.
“Orang Minang di Riau ini bukan warga pendatang, tapi sudah merupakan warga Riau yang bersuku Minang. Itu sudah dibuktikannya dengan banyaknya orang Riau bersuku Minang yang membangun negeri Riau,” ujarnya. Tidak hanya itu, Rusli yang didampingi istrinya, Septina Primawati Rusli, juga mengapresiasi IKMR yang banyak mendukung pembangunan Riau.
Selanjutnya, ia berharap, jalinan konsolidasi sesama orang Riau berhasil menggalang kesatuan dan persatuan. Ia tidak menafikan bahwa Riau adalah provinsi yang memiliki heterogenitas suku yang sangat kaya adat dan istiadat. “Saudara-saudara saya yang sudah menjadi orang Riau harus terus membantu mengembangkan dan menyumbangkan ide serta kemauan untuk kemajuan pembangunan di Riau.”
“Karena kita semua memiliki spirit yang tinggi untuk maju, dan karena saudara kita ini sudah di Riau cukup lama, tidak ada perbedaan antara pendatang atau tidak. Biar berbeda sukunya, kita semua adalah masyarakat Riau,” tuturnya.
Marlis mengatakan, makna terbesar pertemuan itu adalah kemampuan menciptakan kehidupan yang baik dan maju, bagi masyarakat Minang dari Sumatera Barat di tengah-tengah masyarakat Riau. Lebih jauh, ia berpesan agar masyarakat Minang di Bumi Lancang Kuning, “Jangan merasa sebagai pendatang. Tapi, kita adalah masyarakat Riau yang datang dari Sumatera Barat, yang harus maju bersama.”
Acara dihadiri Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau M Johar Firdaus, Walikota Pekanbaru Herman Abdullah, Bupati Pelalawan Rustam Effendi, Bupati Agam Aristo Munandar, Sekretaris DPRD Riau Nazib Soesila Dharma, anggota DPRD Riau dan Pekanbaru, Kapolda Riau Brigjen Pol Adjie Rustam Ramdja, dan ketiga anggota DPD asal Riau Maimanah Umar, Abdul Gaffar Usman, dan Muhammad Gazali.
Mubes bertema “Melalui Mubes, Kita Mantapkan Konsolidasi Organisasi dengan Menggalang Persatuan dan Kesatuan Menuju Kemandirian Organisasi”. Dalam laporannya, Syamsul Hidayah Kahar, Ketua Panitia Pelaksana Mubes IKMR, menjelaskan lebih 250 peserta, di antaranya utusan IKMR-IKMR kabupaten/kota dan IKMR provinsi, menghadiri Mubes.
Mubes dibuka Irman yang ditandai dengan pemukulan gong sebanyak lima kali. Dalam sambutannya, Irman berharap, hasil Mubes bisa bermanfaat bagi kebersamaan yang kuat. “Supaya tidak ada perbedaan, maka saya mengajak agar orang Minang terus berkarya di tengah masyarakat Riau untuk pembangunan itu sendiri. Tentunya dengan kebersamaan, karena hanya dengan kebersamaan kita bisa kuat untuk kemajuan bangsa.”
Irman tak segan-segan memuji kemajuan dan perkembangan Riau kini yang disandingkan dengan Negeri Pahang, Negeri Selangor, Negeri Perak, atau Negeri Sembilan di Malaysia. Kemajuan dan perkembangan tersebut memosisikan Riau sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Ketua Umum IKMR Basrizal Koto dalam sambutannya mengatakan, selama dua periode kepimpinannya (2000-2010), IKMR tidak terseret politik praktis, dan tidak berwarna partai politik tertentu. Namun, suatu ketika bisa mewarnai. “Kita tidak terjun ke dalam dunia politik praktis dan tidak berwarna. Namun, kita seketika bisa mewarnai,” ujarnya.
Dua Gubernur Bernyanyi
Sebagai gubernur, Rusli dan Marlis harus pandai-pandai memilih lagu yang didendangkan, juga menghafal lagu-lagu rakyat. Ruang Hang Tuah Hotel Mutiara Merdeka yang gegap gempita selain disesaki urang Minang dan undangan juga karena Rusli dan Marlis berdendang.
Marlis menyanyikan lagu “Urang Talu” yang diikuti hadirin. Rusli lebih heboh lagi. Ia melibatkan penyanyi Minang Edi Gampo mengalunkan lagu “Bareh Solok”. Pandai benar kedua gubernur memikat dan merajut hati rakyatnya. Suasana begitu cair, semua hadirin menikmatinya, termasuk Irman.
Memang, budaya Minang menganjurkan pemudanya berkelana ke berbagai daerah dan kembali membangun kampungnya. Lama kelamaan mereka menetap di perantauan, untuk kehidupan yang lebih baik dan maju.
Malam itu, warga Riau bersuku Minang dalam naungan IKMR berhimpun “Tanpa warna dan tak berpolitik”, mengutip Basrizal. Orang Riau bersuku Minang betul-betul menyatu dan mendukung program Pemerintah Provinsi Riau.
Dengan falsafah “Di ma Bumi dipijak, di sinan Langik dijunjuang. Di ma sumua digali, di sinan aia disauak. Di ma nagari dihuni, di sinan adaik dipakai”, mereka menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kesamaan karakter, bahasa, dan agama memudahkan silaturahim antara orang Riau dengan suku Minang agar “sasakik sasanang kabukik samo mandaki, kalurah samo menurun, saciok bak ayam sa danciang bak basi”.
Acara malam itu diawali dengan dua lagu yang didendang bersama, yakni “Minangkabau” dan “Lancang Kuning”. Semua hadirin hadirat menyanyi bersemangat. Di gerbang masuk lokasi, tetamu disambut gandang tabut dengan tasanya yang bersemangat dengan penari pasembahan yang berpakaian kuning, warna kebanggaan Bumi Lancang Kuning.
Nuansa perpaduan Minang-Riau dan perbauran suku yang bahu membahu sesakit dan sesenang ini menyebabkan acara malam itu benar-benar nyaman. Ditutup oleh Irman yang dinobatkan memangku penghulu bergelar “Datuk Labiah”. Lalu, keluarlah pepatah petitih serta pantun Datuk yang menyatukan antarsuku.

29. Mar, 2010 







































Penjabaran awal naskah akademik dan draft RUU Provinsi Kepulauan oleh Tim Pakar, Ronald Zelfianus Titahelu dan Kotan Y. Stefanus, menjadi [...]
Belum ada komentar