LEBIH BAIK PEMIMPIN BUTA MATA KETIMBANG BUTA HATI
JAKARTA–Sosok Kiai Haji (KH) Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi kenangan. Segala kebaikannya terus-menerus diperbincangkan, termasuk kenangan tatkala dia menjabat sebagai presiden keempat Indonesia.
“Lebih baik saya punya presiden yang buta matanya daripada presiden yang buta hatinya,” kata anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Sulawesi Utara (Sulut) yang juga sahabat Gus Dur, Ferry FX Tinggogoy.
Dia menyampaikannya dalam dialog interaktif “Mengenang Gus Dur: Pemikirannya tentang Pluralisme dan Kedaerahan” di Pressroom DPD Kompleks Parlemen, Senayan–Jakarta, Jumat (8/1). Ditegaskan, sebagai tokoh nasional, Gus Dur menyatukan carut marut kebangsaan dengan semangat pluralismenya yang tiada terhentikan.
Meski penglihatannya terbatas, menurut Ferry, Gus Dur memiliki kepekaan hati, yang jauh lebih peka ketimbang orang-orang yang penglihatannya sempurna. “Meski Gus Dur buta matanya, tapi hatinya tidak buta,” ujarnya.
Ferry tidak mempedulikan apakah Gus Dur akan beroleh gelar pahlawan nasional atau tidak. Tanpa gelar pun, Gus Dur adalah pahlawan yang sebenarnya. “Gus Dur dapat gelar pahlawan atau tidak, I dont care.”
Mantan juru bicara kepresidenan Gus Dur, Wimar Witoelar yang juga narasumber acara berpendapat gelar pahlawan nasional bagi almarhum tidak penting. Lebih dari cukup jika masyarakat Indonesia mengenangnya terbebas dari segala tuduhan miring.
Ia menyakini, almarhum tak akan meminta gelar. Almarhum telah dihargai dengan pemberitaan media massa yang tak menganggapnya terlibat “BulogGate” dan “BrunaiGate”. “Gelar itu cuma masalah politik. Kalau mau politis, kelompok yang ingin punya pahlawan sendiri terserah. Pahlawan saya dan pahlawan masyarakat tak perlu diresmikan,” katanya.
Tidak diperlukan pula membersihkan nama Gus Dur. Justru pihak-pihak yang menudingnya yang harus melakukannnya. “Tidak perlu ada pembersihan nama, Gus Dur sudah bersih. Yang perlu adalah orang-orang yang menjatuhkan,” kata Wimar
Ditambahkannya, “Gus Dur tidak akan meminta gelar pahlawan,” ujarnya. Kendati dia disia-siakan sebagai orang besar karena tindakan dan pikirannya kerap disalahmengerti semasa menjabat sebagai presiden, tetapi keilmuan, pengetahuan, kearifan, dan kebijaksanannya dimengerti hingga kini.
Baginya, Gus Dur adalah pahlawan dunia yang tidak memerlukan pengangkatan. “Itu saya rasa peninggalan terbesar dari presiden. Saya rasa gelar formalnya itu proses politik. Kalau ada kelompok yang semangat punya pahlawan sendiri silakan,” katanya.
Gus Dur juga dikenal dengan kesederhanaannya. Tidur di kursi pun kerap dilakukannya. “Waktu menginap di kontrakan adik saya di luar negeri, Gus Dur dengan enaknya tidur di kursi,” kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Isbodroini Soejanta.
Jujurlah dalam Ber-Indonesia
Isbodroini juga mengatakan, Gus Dur kerap meminta bangsa Indonesia bersikap jujur dalam ber-Indonesia. Ungkapan tersebut sindiran terhadap bangsa Indonesia yang belum sepenuhnya mengakui keberagamannya. “Indonesia sangat plural, multibangsa, multietnik, dan multiagama. Sekarang, pemahaman kita belum sampai pada penghormatan itu.”
Ia menjelaskan, ketidakjujuran bangsa Indonesia mengakui keberagamannya dibuktikan dengan pemberlakuan peraturan daerah (perda) syariah. “Saat ini, Perda-perda syariah bermunculan seperti di Jabar (Jawa Barat) dan daerah-daerah lain sebagai manifestasi penduduknya yang beragama Islam. Terus, yang bukan muslim bagaimana?” kritiknya.
Menurut Isbodroini, perda-perda tersebut bertentangan dengan semboyan bangsa Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika. Juga diperparah dengan sikap elite politik yang tidak memperdulikan kenyataan tersebut. “Makin lama makin subur pemahaman seperti itu,” tambahnya.
Sementara itu, Wimar mengaku memahaminya. Oleh karenanya, Gus Dur tidak pernah memaksakan penyeragaman menghadapi setiap perbedaan. “Kalau ada perbedaan itu harus diakui, bukan malah diseragamkan,” tandasnya.
Tim Dokter Kepresidenan menyatakan Gus Dur menghembuskan nafas terakhirnya hari Rabu (30 Desember 2010) pukul 18.45 WIB setelah mengalami komplikasi dan kritis sejak pukul 18.15 WIB.
Jusuf Misbach dari tim dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menambahkan, Gus Dur dirawat sejak 26 Desember 2009. Ia sempat membaik namun hari Rabu pukul 11.30 WIB kondisinya memburuk dengan komplikasi penyakit stroke, diabetes, jantung.
Sebagai anggota keluarga Bani Hasyim, esok harinya Gus Dur dimakamkan di komplek pemakaman keluarga di Pondok Pesantren Tebu Ireng, lokasi pemakaman kakeknya, Hasyim Asy’ari, dan bapaknya, KH Wahid Hasyim. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertindak sebagai inspektur upacara.

08. Jan, 2010 







































Penjabaran awal naskah akademik dan draft RUU Provinsi Kepulauan oleh Tim Pakar, Ronald Zelfianus Titahelu dan Kotan Y. Stefanus, menjadi [...]
Belum ada komentar